Uncategorized

Lonjakan 73%: Kisah di Balik Melesatnya Ekspor Malaysia ke Libya

Di tengah gemerlap MIHAS 2026, ada satu angka yang mungkin luput dari perhatian banyak orang tapi sebenarnya cukup mengejutkan: ekspor Malaysia ke Libya melonjak 73,4 persen sepanjang delapan bulan pertama tahun ini. Angka ini diumumkan bersamaan dengan pembukaan resmi Libya Pavilion di MITEC hari ini, yang ditandai gunting pita langsung oleh Chairman MATRADE, Dato’ Seri Reezal Merican Naina Merican.

Kalau dilihat lebih detail, nilai ekspor Malaysia ke Libya untuk Januari–Agustus 2026 tercatat mencapai RM106,5 juta — didominasi oleh mesin dan perlengkapan, produk kimia, serta produk berbasis kelapa sawit. Lonjakan ini bukan kebetulan satu tahun saja: total perdagangan bilateral kedua negara sepanjang 2025 sudah tembus RM1,03 miliar, naik 38,9 persen dibanding tahun sebelumnya. Artinya, tren pertumbuhan ini sudah berlangsung setidaknya dua tahun berturut-turut.

Menariknya, momentum ini nggak muncul dari langit. Ceritanya bermula dari misi dagang MATRADE ke Tripoli pada Mei 2024, yang melibatkan 10 perusahaan Malaysia dan berhasil menghasilkan hampir RM250 juta peluang bisnis. Dari situ, hubungan dagang terus dipupuk lewat partisipasi Malaysia di Tripoli International Fair awal tahun ini — yang akhirnya berujung pada kehadiran penuh Libya sebagai pavilion negara di MIHAS 2026.

Chairman MATRADE menyebut kehadiran pavilion ini sebagai lebih dari sekadar booth pameran biasa. “Ini adalah jembatan, gerbang menuju Afrika Utara dan Mediterania bagi Malaysia dan ASEAN, sekaligus landasan bagi rekan-rekan Libya menuju ekonomi halal Asia,” ujarnya saat meresmikan pavilion tersebut. Ia menambahkan bahwa dengan membawa sektor swasta Libya yang terus berkembang masuk ke ekosistem halal Malaysia — termasuk sistem sertifikasi, jaminan kualitas, dan infrastruktur dagang — kedua negara bisa membangun rantai pasok yang cukup kuat untuk melayani dunia Islam secara luas.

Libya Pavilion sendiri diselenggarakan lewat kolaborasi antara Tripoli Chamber of Commerce, Industry and Agriculture (TCCIA) dan General Authority for Exhibitions and Conferences (GAFEC) — dua lembaga yang mewakili sisi Libya dalam kemitraan dagang ini.

“MATRADE siap, dengan tangan terbuka, membantu perusahaan-perusahaan Libya melangkah masuk ke ASEAN, sama seperti kami berharap lebih banyak perusahaan Malaysia memanfaatkan peluang yang ditawarkan Libya,” tambah Reezal Merican, menegaskan bahwa hubungan dagang ini dirancang dua arah, bukan cuma menguntungkan satu pihak.

Kehadiran Libya juga sejalan dengan gambaran besar MIHAS 2026 tahun ini — pameran paling ambisius yang pernah digelar MATRADE, dengan 2.000 exhibitor dari 58 negara dan proyeksi transaksi dagang tembus RM5 miliar. Dalam konteks regional, Asia Timur Laut dan ASEAN memang masih jadi basis buyer terbesar, tapi representasi Afrika — termasuk Libya — terus tumbuh sebagai pasar non-tradisional yang makin diperhitungkan.

Bagi Malaysia yang menargetkan RM80 miliar nilai ekspor halal pada 2030, kisah lonjakan 73 persen ini bukan sekadar statistik kecil di sela-sela berita besar MIHAS. Ini justru contoh nyata bagaimana strategi diversifikasi pasar Malaysia bekerja di lapangan — satu negara, satu pavilion, dan pertumbuhan dagang yang terus terbangun dari hubungan yang dirintis bertahun-tahun sebelumnya.

Untuk exhibitor dan pelaku usaha yang hadir di MIHAS 2026, kisah Libya ini juga bisa jadi bahan refleksi: pasar yang jarang dilirik justru berpotensi jadi ladang pertumbuhan paling cepat. Selama delapan bulan terakhir saja, laju ekspor ke Libya tumbuh jauh lebih cepat dibanding rata-rata pasar tradisional Malaysia — sinyal bahwa strategi “melihat ke pasar baru” yang selama ini digaungkan MATRADE bukan sekadar slogan, tapi benar-benar terbukti di angka.

Kalau tren ini berlanjut, bukan tidak mungkin cakupan produk yang diekspor ke Libya ikut meluas — mengikuti pola yang juga terlihat di MIHAS 2026 secara keseluruhan, di mana permintaan buyer premium kini merambah jauh melampaui sektor makanan dan minuman, masuk ke bahan baku khusus, bioteknologi, hingga keuangan syariah. Mesin, bahan kimia, dan produk sawit mungkin baru permulaan dari hubungan dagang yang masih punya banyak ruang untuk tumbuh.

Ilham Pradipta

About Author

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like

Uncategorized

Malaysian Companies Invited to Register for INSP MIHAS 2026, More than 500 international buyers from 55 economies have confirmed participation

KUALA LUMPUR, 08 JULY 2026: The Malaysia External Trade Development Corporation (MATRADE) invites Malaysian companies to seize new global business
Uncategorized

MALAYSIA’S GLOBAL HALAL VISION TAKES CENTER STAGE AS JAKIM AND MATRADE CO-UNVEIL GHaS 2026

KUALA LUMPUR, 24 AUGUST 2026 (MONDAY) – The Malaysia External Trade Development Corporation (MATRADE) and the Department of Islamic Development