ArtikelCampurJournalKesehatanNasionalPilihanRekomendasiTipsTransportasi

Waspada! Ini 5 Resiko saat Bepergian dengan Pesawat

Tanpa Sobat Mojou sadari, ketika memilih moda transportasi udara, banyak resiko yang dihadapi. Tidak hanya yang terlihat, namun juga yang tidak terlihat bahkan tidak disadari.

Pelancong terkadang terlalu mementingkan itinery dan melewatkan kemungkinan-kemungkinan buruk yang dapat merusak kesehatan saat dalam perjalanan. Awak pesawat hingga sesama penumpang rentan terkena masalah kesehatan, dari mulai pemicu kanker, masalah jantung, penglihatan dan pendengaran, mental disorder, hingga turunnya kemampuan kognitif.

Baca juga Jangan Lakukan ini saat Bepergian ke Luar Negeri

Sebagian dari Sobat Mojou juga pasti paham akan resiko-resiko yang tampak dan mudah dikenali sehingga pencegahan dapat dilakukan. Tidak hanya masalah teknis yang mudah disalahkan kepada awak kabin, lho.

Berikut ulasannya kami rangkum dari LiveScience:

Penyakit

Berdasarkan studi Journal of Environmental Health Research tahun 2004, penumpang pesawat mempunyai resiko 100 kali lebih tinggi terjangkit flu dibanding mereka yang tidak pakai pesawat. Hal ini disebabkan karena perubahan suhu yang dialami tubuh dan rendahnya kelembaban udara membuat sistem imun melemah.

Cuaca panas maupun dingin, kelembaban, juga ketinggian memaksa kalian untuk keluar dari zona nyaman. Tidak hanya pada saat di pesawat namun sesaat setelah sampai di negara tujuan. Kurangnya kemampuan tubuh untuk menyesuaikan diri dengan hal-hal tersebut bisa memicu rasa mual ekstrim hingga tertular penyakit pandemik.

Tersebarnya penyakit, seperti polio hingga cacar, melibatkan perjalanan penerbangan. Orang yang terinfeksi suatu penyakit menular menyebarkan virus tersebut kepada orang dewasa maupun anak-anak yang belum melakukan vaksinasi (entah apapun alasannya).

Kebutuhan akan penggunaan moda transportasi pesawat ini akan selalu menjadi pilihan. Oleh karena itu, solusi terbaik adalah pastikan tubuh anda divaksin sebelum bepergian.

Sindrome Kelas Penerbangan Ekonomi

Duduk pada waktu yang cukup lama tidak hanya membuat anda merasa tidak nyaman, namun juga dapat “membunuh” perlahan. Terutama jika sedang melakukan perjalanan dengan pesawat kelas ekonomi dan durasi yang cukup lama. Penyumbatan darah akan terbentuk pada bagian kaki yang ditekuk dan tidak ada gerakan. Penyumbatan ini berpotensi menjalar hingga jantung dan menyebabkan emboli paru. Hal ini disebut juga deep vein thrombosis (DVT) atau trombosis vena.

Gumpalan dapat terbentuk selama atau hingga 30 hari setelah perjalanan maupun keadaan tidak bergerak, dan sebagian besar gumpalan larut pada mereka sendiri. Sebenarnya, kasus trombosis vena yang disebabkan oleh perjalanan udara jarang diketahui. Hanya sekitar 20 kasus trombosis pelancong yang jelas dari perjalanan udara yang mengarah ke emboli paru dilaporkan per tahun. Satu studi kecil dari Selandia Baru yang diterbitkan dalam jurnal The Lancet di 2003, bagaimanapun, menemukan bahwa 1 persen wisatawan mengalami penyumbatan.

Dalam mencegah masalah tersebut, disarankan untuk mengenakan pakaian longgar, minum banyak air, sesekali berjalan di sekitar kabin atau melakukan peregangan. Bila perlu, mempersiapkan biaya lebih untuk membayar tiket penerbangan kelas atas.

Kerusakan Pendengaran

Penerbangan yang memakan waktu selama lebih dari 4 jam, dapat memicu hilang pendengaran. Mengapa?

Menurut penelitian dari National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH), standar aman dalam pesawat ialah 88 desibel selama 4 jam dan 85 desibel selama 8 jam. Tentunya tergantung dimana letak duduk penumpang.

Semakin belakang, semakin besar resiko kehilangan kemampuan mendengaran. Hal ini terjadi karena, mesin pesawat letaknya dekat dengan kursi penumpang belakang.

Popular Science merilis artikel yang menjelaskan secara mendetail tingkat kebisingan dalam satuan desibel. Di bagian depan 75 desibel, di belakang kabin 85 hingga 100 desibel.

Untuk mengurangi resiko tersebut, ada baiknya menggunakan headphone yang dapat meredam kebisingan hingga 40 desibel. Tidak hanya itu, mesti diketahui, nyeri di bagian telinga juga dapat disebabkan oleh tekanan udara.

Jet lag

Sebuah penelitian dari The Lancet tahun 2007 menunjukkan bahwa jet-lag dan kelelahan dalam perjalanan dapat menyebabkan penurunan kognitif dan gangguan psikotik dan suasana hati, gangguan tidur, juga kemungkinan penyakit jantung dan kanker.

Dampak dari jet-lag dalam jangka pendek ialah kelelahan, hilangnya konsentrasi, dan juga kehilangan nafsu makan. Untuk mencegah hal ini terjadi, sebelum perjalanan pastikan Sobat Mojou mengetahui kondisi badan terlebih dahulu, ya!

Sinar Kosmik

Sebagian besar penerbangan internasional, penumpang dihadapkan dengan dosis radiasi dari sinar kosmik yang kurang signifikan. Kebanyakan energi partikel dari luar angkasa ialah proton. Semakin lama waktu penerbangan, juga semakin dekat jaraknya dengan Kutub Utara, kemungkinan penumpang terpapar radiasi cukup besar.

Semisal pada penerbangan pulang-pergi dari Washington, D.C., ke Beijing. Penumpang dengan mudah terpapar 100-Mikrosievert Anda akan mendapatkan dari dada X-ray. Orang yang paling beresiko adalah mereka yang terbang untuk mencari nafkah, yaitu pilot dan pramugari. Tingkat kanker seperti kanker payudara, di antara personil penerbangan sedikit lebih tinggi dari pada populasi umum. Tapi dokter tidak yakin apakah kanker meningkat dari Sinar kosmik atau jet-lag.

 

Baca selanjutnya 7 Tips Pergi Keluar Negeri Untuk Traveler Pemula

 

(fnrp)

 

Comments (1)

  1. Rite Aid Price Amoxicillin 500 Mg Cialis Tadalafil Kaufen In Deutschland Cialis Cialis Lo Venden Sin Receta

Comment here