HistoryPeradaban Islam

Taktik Cerdik Sulaiman Yang Mengantarkan Kemenangan

Moslemjourney.com– Selama ribuan tahun peradaban Islam berdiri, beberapa tempat mengalami sejarah kejayaan yang gemilang. Salah satu tempat yang dimaksud adalah kerajaan Turki yang saat itu dipimpin oleh Sulaiman al-Qonuni bin Salim. Ia bahkan mempunya julukannya sendiri oleh orang – orang Barat yaitu Suleiman the Magnificent atau Sulaiman yang agung.

Bayangkan saja, Sobat Mojou. Di usianya yang baru beranjak 26 tahun, Sulaiman al-Qonuni bin Salim berhasil memenangkan pertempuran yang didominasi oleh Kerajaan Hungaria dan Eropa. Awal pertempuran itu dipicu oleh kejadian dimana utusannya dibunuh saat tengah menarik Jizyah (Upeti) yang biasa diberikan Raja Hungaria yakni Raja Louis II kepada Khalifah Utsmani sebelumnya, yaitu Sultan Selim I. 

Raja Louis II pikir, Sulaiman al-Qonuni bin Salim takkan bisa melawan sekuat ayahnya, Sultan Selim I. Setelah mendengar kabar itu, Sulaiman al-Qonuni bin Salim naik pitam dan mendeklarasikan perang pada Kerajaan Hungaria dan Eropa. 

Sang Sultan mempersiapkan pasukan perang terbaiknya dan berangkat dari Istanbul menuju Hungaria dengan membawa 100.000 pasukan dengan 350 meriam juga mengerahkan 800 kapal perang untuk mencegah datangnya bala bantuan Eropa dan mengamankan perairan Laut Mediterania. Ia jugalah yang memimpin pasukannya sendiri yang akan berjihad menuju Hungaria dengan menempuh jarak sekitar 1000 KM untuk mencapai medan pertempuran.

Baca Juga : Ternyata Orang Indonesia Pendiri Filipina Loh

Selama perjalananya, Sulaiman al-Qonuni bin Salim juga berhasil menaklukkan wilayah yang ia lewati. Salah satunya adalah benteng yang terkuat saat itu, Benteng Belgrade (Ibu kota Serbia sekarang). Tujuannya supaya perjalanan sepulangnya dari medan perang menjadi aman. 

Setelah mendengar berita itu, Raja Louis II langsung mempersiapkan pasukannya yang terdiri dari gabungan Kerajaan Hungaria Kroasia, Serbia, Kekaisaran Romawi Suci, Takhta suci Vatikan, Kerajaan Bohemia (Rep. Ceko), Kerajaan Polandia, Italia, Spanyol, Swiss, Luksemburg, dan Jerman. 200.000 Pasukan Salib dengan 35.000 diantaranya merupakan pasukan kavaleri berkuda dengan senjata lengkap dan memakai baju besi akhirnya berangkat untuk bertempur di Lembah Mohacs.

Setelah sampai disana, Sulaiman al-Qonuni bin Salim menghabiskan malamnya dengan bermunajat pada Allah agar diberikan kemenangan esok hari. Setelah menyelesaikan salam, sang Sultan pun berkata, 

وكأني برسول الله صلى الله عليه وسلم ينظر إليكم الأن

(Saya saat ini seperti dalam posisi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam menyaksikan kalian semuanya).

Airmata langsung pecah diantara pasukan tentara Islam tersebut. Sambil menangis, mereka saling berjanji bertemu kembali di dalam Surganya Allah. Sang Sultan sadar pasukannya kalah jumlah dengan pasukan musuh. Maka dari itulah,  Sulaiman al-Qonuni bin Salim kemudian membagi pasukannya menjadi 3 barisan. Barisan pertama untuk Pasukan Elit Janissary, barisan kedua untuk Pasukan Kavaleri (berkuda) dengan senjata ringan dan pasukan Infanteri (pejalan kaki) dan barisan terakhir untuk  Pasukan Artileri (meriam) dan Sultan sendiri.

Seperti yang diperkirakan, pasukan musuh bergerak secara membabi buta. Mereka menjadi sombong karena mengetahui pasukan Sultan yang kalah jumlah. Sebelum perang, Sultan memberikan perintah bagi Pasukan Elit Janissary untuk bertahan selama 1 jam demi membuka jalan bagi barisan kedua.

Baca Juga : Yuk Datang Ke 4 Kota Teraman Di Dunia

Setelah bertahan selama 1 jam, barisan pertama mundur digantikan oleh barisan kedua yang bertugas untuk memasukkan pasukan musuh ke dalam jangkaun meriam sang Sultan dengan cara berlari ke belakang. Setelah berhasil menjebak musuh ke dalam titik meriam, barisan ketiga mulai menembakkan meriamnya. Perang berakhir dengan terbunuhnya Raja Hungaria, Louis II di Sungai Danube.

Kemenangan ini menandakan akhir masa Kerajaan Hungaria dan menjadi diseganinya kepemimpinan Sulaiman al-Qonuni bin Salim oleh kerajaan-kerajaan di Eropa. (ans)

Comment here