Kalau biasanya ajang penghargaan industri mengukur siapa yang paling sukses hari ini, MIHAS Awards 2026 mencoba pendekatan yang sedikit berbeda. Lewat penghargaan yang digelar hari ini di MITEC, Kuala Lumpur, MATRADE secara eksplisit menyatakan bahwa kriteria penilaian tahun ini bergeser — bukan cuma soal pencapaian yang sudah diraih, tapi soal kapabilitas yang akan membentuk industri halal di masa depan.
"MIHAS Awards nggak lagi cuma soal mengakui keunggulan yang sudah dicapai hari ini. Ini juga soal mengakui kapabilitas yang akan membentuk industri halal di masa depan," ujar Chairman MATRADE, YB Dato' Seri Reezal Merican Naina Merican, dalam pernyataan resminya. Ia menjelaskan bahwa tahun ini penilaian memberi penekanan lebih besar pada inovasi, keberlanjutan, digitalisasi, dan teknologi baru — karena faktor-faktor ini dianggap makin penting dalam cara bisnis bersaing dan menciptakan nilai secara global.
Pergeseran filosofi ini tercermin jelas dari struktur penilaian yang digunakan. Alih-alih sekadar menilai angka penjualan atau skala bisnis, evaluasi MIHAS Awards 2026 secara khusus mengakui perusahaan yang memanfaatkan solusi digital dan teknologi baru — termasuk kecerdasan buatan (AI) — untuk meningkatkan produk dan layanan, memperbaiki proses bisnis, memperkuat jangkauan pasar, dan menciptakan sumber nilai baru. Pendekatan yang lebih luas ini mencerminkan perubahan sifat industri halal global, di mana daya saing kini nggak cuma soal kualitas produk dan performa komersial, tapi juga soal adopsi teknologi, praktik bisnis yang bertanggung jawab, kapabilitas inovasi, dan kemampuan merespons perubahan pasar yang cepat.
CEO MATRADE, YBhg. Dato' Indera Abu Bakar Yusof, menambahkan perspektif dari sisi kualitas peserta. Menurutnya, entri yang diterima tahun ini menunjukkan bahwa bisnis-bisnis di ekosistem halal terus berevolusi, berinovasi, dan beradaptasi memenuhi tuntutan pasar global yang cepat berubah. "Yang menonjol tahun ini adalah pengakuan yang makin besar terhadap keberlanjutan, digitalisasi, dan teknologi baru sebagai komponen integral dari daya saing bisnis dan pertumbuhan jangka panjang," ujarnya.
Untuk memastikan filosofi penilaian baru ini diterapkan secara konsisten dan adil, MATRADE juga memperkuat kerangka evaluasinya tahun ini — mencakup proses pre-assessment, sesi pitching di depan panel juri independen, dan yang terpenting, validasi independen dari auditor eksternal yang mengawasi seluruh proses evaluasi. Langkah ini jadi penegasan bahwa pergeseran kriteria penilaian ini nggak sekadar jargon pemasaran, tapi benar-benar diterapkan lewat proses yang terstruktur dan diawasi secara ketat.
Pendekatan "menilai masa depan, bukan cuma pencapaian" ini juga sejalan dengan arah besar MIHAS 2026 secara keseluruhan — mulai dari penekanan pada teknologi AI di sistem business matching INSP, sampai tema besar acara tahun ini, "Shaping Trust, Driving Resilience". Semuanya menunjukkan bahwa MATRADE ingin memposisikan MIHAS bukan cuma sebagai etalase produk halal yang sudah mapan, tapi juga sebagai platform yang aktif mendorong arah perkembangan industri ke depan.
Bagi exhibitor yang mempertimbangkan ikut serta di edisi MIHAS Awards berikutnya, sinyal ini penting dicermati: kemampuan berinovasi, mengadopsi teknologi, dan menunjukkan praktik bisnis berkelanjutan kini jadi faktor penilaian yang setara pentingnya dengan performa bisnis itu sendiri — bukan lagi sekadar nilai tambah opsional. Dengan kata lain, perusahaan yang ingin bersaing di MIHAS Awards ke depan perlu mulai memikirkan narasi inovasi dan keberlanjutan mereka sejak dini, bukan cuma menunggu sampai momen pitching tiba.
Pergeseran semacam ini sebenarnya mencerminkan tren yang lebih luas di berbagai ajang penghargaan industri global — di mana juri makin jarang puas hanya dengan angka penjualan atau testimoni pelanggan, dan makin menuntut bukti konkret soal bagaimana sebuah bisnis akan tetap relevan lima atau sepuluh tahun ke depan. Buat industri halal yang masih relatif muda dibanding sektor-sektor lain dalam hal standardisasi penilaian semacam ini, langkah MIHAS Awards 2026 bisa dibilang cukup progresif — dan berpotensi jadi acuan buat ajang penghargaan serupa di negara-negara lain yang juga ingin memperkuat ekosistem halal mereka, termasuk kemungkinan menginspirasi penyelenggara pameran halal di Indonesia untuk menerapkan kriteria penilaian yang lebih berorientasi masa depan juga.
Moslem Journey akan terus mengikuti perkembangan standar dan filosofi penilaian industri halal global. Ikuti terus liputan lengkapnya.

