Berita

Mengenal Suku Dayak Punan Hovongan

“Saya berharap supaya pemerintah memperhatikan dan membangun secara fasilitas, infrastruktur dari segi pendidikan dan kesehatan karena secara geografis suku kami punan hovongan sulit dijangkau (terisolir)”

Avang De (Temenggung Dayak Punan Hovongan)

Suku Dayak Punan Hovongan penghuni hutan yang menjadi kawasan Taman Nasional Betung Kerihun Danau Sentarum, bahkan mereka sudah ada sebelum terbentuknya TNBKDS. Sejarah yang dikisahkan oleh Avang De selaku temenggung desa Tanjung Lokang, ketemenggungan pertama berada di hulu sungai bulit yang bernama opene, kemudian setiap pergantian ketemenggungan dari hulu semakin ke hilir hingga sekarang berada di Desa Tanjung Lokang. Jika diurutkan perpindahan tempat Suku Dayak Punan Hovongan Mulai dari Sungai Opene, sungai diubanyuk’, berpindah ke muara sungai kate, mereka turun ke data halok, berpindah lagi ke data sungai taran, data manglo, data opet (dataran kosong), muara sungai hovorit, nanga sungai honavit, data longu, sampai pada akhir berpindah ke data nonoa (desa Tanjung Lokang) yang merupakan pecahan dari sungai Kapuas. Temenggung dalam Dayak Punan Hovongan diartikan sebagai pemangku tertinggi dalam Desa Tanjung Lokang atau Kepala Suku Adat Punan Hovongan.

Dalam kehidupan masyarakat Punan Hovongan, mereka terbiasa meramu alias mengambil tumbuh-tumbuhan yang ada di hutan untuk dijadikan obat. Ghozali Ahmad selaku Kepala Resort Tanjung Lokang mengomentari “masyarakat Tanjung Lokang perlu diadakan sosialisasi lebih lanjut, melihat hubungan antara TNKBDS dengan Masyarakat Desa Tanjung Lokang yang sedang pasang surut. Hal ini dikarenakan adanya peraturan-peraturan yang harus di ditaati oleh masyarakat Desa Tanjung Lokang yang masuk dalam kawasan TNBKDS”.

Gua Diang Kaung, gua yang menjadi peninggalan masyarakat Punan Hovongan.

 Selain meramu, masyarakat Tanjung Lokang juga menjadi pemburu sarang walet. Desa yang dikelilingi oleh kawasan Karst atau batu kapur yang menghasilkan Gua sebagai tempat tinggal burung walet. Menurut Telunyo sebagai mantan pemburu sarang walet menambahkan “Dulu sekitar 10 tahun yang lalu, gua-gua yang ada di perbukitan menjadi tempat tinggal sementara bagi masyarakat karena menjaga sarang wallet supaya tidak diambil orang lain, bahkan mereka berjaga di dalam gua sekitar 1-2 bulan”. Banyak vandalisme yang terjadi pada beberapa gua yang menjadi tempat tinggal sementara masyarakat Punan Hovongan.

Pada masyarakat Suku Dayak Punan Hovongan ada 170 KK, karena semakin padatnya penduduk Punan Hovongan akhirnya terjadi pemekaran desa yang ada di Nanga Bungan, desa yang dapat ditempuh melalui perahu dengan estimasi 4 Jam dari Kota Puttusibau. Selain itu ada juga desa yang masih sulit diakses yaitu desa Belatung, desa yang sangat terisolir berada di Zona Inti Kawasan Taman Nasional Betung Kerihun. Bahkan dari Taman Nasional belum pernah mengunjungi desa yang paling ujung antara Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur. Menurut Simon Petrus sebagai masyarakat Punan Hovongan “perjalanan yang harus di tempuh untuk menuju desa Belatung adalah melalui perahu dari Tanjung Lokang sampai di desa Bu’ung/hovo’ung dengan estimasi 2 jam, kemudian dilanjutkan berjalan kaki dengan estimasi 7-8 jam bagi masyarakat Tanjung Lokang. Disana ada sekitar 20kk termasuk adik saya yang menikah dengan orang Belatung”.  Desa Belatung juga tidak termasuk dalam pembangunan jalan Trans Kalimantan yang menghubungkan antara Kalimantan Barat dengan Kalimantan Timur, sehingga masih sulit dijangkau.

 

Kontributor : Iqbal Ramadhan Gustani



Comment here