ArtikelBeritaHistoryPilihan

Kerajaan Sriwijaya Fiktif, Ini Kata Ridwan Saidi

Moslem Journey – Menuai pro dan kontra pernyataan  yang dilontarkan oleh Budayawan Betawi yaitu Ridwan Saidi dalam sebuah video wawancara di Youtube perihal Kerajaan Sriwijaya yang fiktif. Bermula dari penelitiannya yang mempelajari empat prasasti peninggalan Kerajaan Sriwijaya yang dimana salah satunya adalah prasasti Kedukan Bukit yang menjadi peninggalan tertua dari Kerajaan Sriwijaya.

Tiga prasasti lainnya adalah prasasti Talang Igo, prasasti Talang Tuo dan prasasti Bukit Kapur. Ridwan mengatakan bahwa keempat prasasti tersebut tidak membuktikan keberadaan adanya Kerajaan Sriwijaya. Ridwan mengaku telah meneliti dan mempelajari isi prasasti-prasasti tersebut karena sejak lama telah mempelajari bahasa-bahasa kuno sehingga Ridwan yakin bahwa apa yang dikatakannya adalah benar. Penjelasan tentang prasasti ini juga telah dituangkan dalam bukunya yang berjudul ‘Rekonstruksi Sejarah Indonesia’.

“Saya sudah mempelajari prasasti-prasasti di Indonesia. Sudah saya bukukan, judulnya Rekonstruksi Sejarah Indonesia,” tuturnya kepada CNNIndonesia.com.

Namun jika kita menilik kebelakang dimana  Kerajaan Sriwijaya merupakan salah satu kerajaan besar yang ada di Indonesia. Kerajaan Sriwijaya pun cukup berperan penting dalam sejarah Indonesia, daerah kekuasaan Kerajaan Sriwijaya yang luas meliputi Kamboja , Thailand , Semenanjung Malaya, bahkan hingga pulau Jawa. Tak ayal nama Kerajaan Sriwijaya cukup terkenal di Nusantara hingga Mancanegara. Kerajaan Sriwijaya pun dikenal juga dengan sebutan Kerajaan Maritim sebab kerajaan ini berhasil menguasai jalur perdagangan maritim Asia Tenggara. Wajar saja jika kejayaan Kerajaan Sriwijaya cukup diakui oleh kerajaan-kerajaan lain di Nusantara maupun Mancanegara.

Kembali lagi dengan masalah yang mengatakan bahwa Kerajaan Sriwijaya fiktif,  Dosen Sejarah Universitas Sriwijaya atau dikenal dengan Unsri, Sumatera Selatan, Farida Wargadalem mengatakan bahwa apa yang diucapkan oleh Ridwan adalah ngawur. Dikutip dari Antara, Rabu (28/8) “Jelas ngawur, sebuah temuan harus diuji oleh forum ilmuwan sebidang agar ada pengakuan, tidak bisa asal berpendapat,”. Farida menuturkan bahwa “Apakah setiap pendapat orang yang tidak jelas keahliannya menjadi sebuah pembenaran? Jika demikian maka tutup saja perguruan tinggi atau kajian-kajian khusus bidang sejarah,” tegas Farida.

Pendapat yang sama pun ditegaskan kembali oleh Ketua Yayasan Tandipulau Erwan Suryanegara, ia mengatakan bahwa sejarah dan bukti keberadaan Kerayaan Sriwijaya sudah dikaji baik secara lokal, nasional, maupun masyarakat internasional. Bukti artefaktual arkeologis berupa arca, prasasti, serta candi pun sudah membuktikan adanya kerajaan tersebut.

Keberadaan Kerajaan Sriwijaya pun sudah diakui dari abad-abad sebelumnya sehingga tidak bisa dengan mudah mengatakan bahwa Kerajaan Sriwijaya adalah fiktif. Erwan siap melaporkan Ridwan dan akun Macan Idealis ke polisi terkait pendapat Kerajaan Sriwijaya fiktif dan hanya sekumpulan bajak laut. (ms)

Comment here