ArtikelDaily HadistFiqihIslamJournalPengetahuan Islam

Jangan Asal Pilih Imam Shalat Berjamaah, Beginilah Syaratnya…

moslemjourney.com – Saat ingin melaksanakan sholat berjamaah di masjid, pernahkah kalian bingung untuk menentukan imam?  Namun ternyata tidak sembarang orang yang dapat menjadi imam dalam shalat berjamaah. Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

وَلا يَؤُمَّنَّ الرَّجُلُ الرَّجُلَ فِي سُلْطَانِهِ , وَلا يَقْعُدْ فِي بَيْتِهِ عَلَى تَكْرِمَتِهِ إِلا بِإِذْنِهِ

“Janganlah seorang maju menjadi imam shalat di tempat kekuasaan orang lain, dan janganlah duduk di rumah orang lain di kursi khusus milik orang tersebut, kecuali diizinkan olehnya” (HR. Muslim no. 673).

Saat shalat berjamaah, posisi imam merupakan posisi yang mulia di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala, namun posisi imam memiliki tanggung jawab yang besar. Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menegaskan : 

الإِمَامُ ضَامِنٌ

“fungsi imam adalah sebagai penjamin” 

Berarti, seorang imam memiliki posisi penting dalam shalat. Karena apabila imam sholat dengan baik, maka bagi imam dan makmum memiliki pahala yang sempurna. Akan tetapi, apabila imam mengalami kesalahan, maka kesahalahan itu hanya ditanggung oleh imam sendiri dan tidak mempengaruhi makamum. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah memberikan petuah :

وَإِنْ أَخْطَئُوا فَلَكُمْ وَعَلَيْهِمْ [ولهم] يُصَلُّونَ لَكُمْ، فَإِنْ أَصَابُوا فَلَكُمْ

“Jika para imam yang shalat dengan kalian itu benar maka pahala bagi kalian semua, akan tetapi jika mereka melakukan kesalahan, bagi kalian pahalanya, kesalahannya hanya ditanggung oleh para imam tersebut” 

Dari penjelasan di atas memberitahu kita, bahwa untuk menjadi seorang imam pada sholat berjamaah tidaklah sembarang orang. Jangan sampai sesorang yang tidak tahu hukum-hukum atau rukun yang ada dalam sholat menjadi imam. Berikut adalah syarat yang harus dipenuhi untuk menjadi imam dalam shalat berjamaah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menyampaikan tentang siapa yang paling berhak menjadi imam sholat dalam hadist riwayat Imam Muslimno 673 dari sahabat Abu Mas’ud Al-Anshari

“Dari Abu Mas’ud Al-Anshari rhadiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertutur : Yang paling berhak untuk menjadi imam adalah orang yang paling pintar dan paling banyak hafalan Al-Qur’annya, jika dalam hal itu sama, maka dahulukan yang paling faham dengan sunnah, jika pengetahuan sunnah (dari para kandidat imam) sama, maka dahulukan orang yang lebih dahulu berhijrah, jika dalam waktu hijrah juga sama, dahulukan orang yang paling dahulu islamnya, dan janganlah seorang mengimami seorang yang memiliki kekuasaan, dan jangan seorang duduk dibangku kemulian milik seseorang kecuali dengan izinnya.” Berkata Al-Asyaj 

Dalam riwayat lain : kata “lebih dahulu islamnya” diganti dengan “lebih tua umurnya”.

Dalam hadist diatas dijelaskan bahwa umat muslim yang memenuhi kiteria atau syarat ada lima jenis, yaitu:

  1. Kesempurnaan bacaan Al-Qur’an dan banyaknya hafalan
  2. Pengetahuan terhadap sunnah (hadits-hadits)
  3. Waktu Hijrah
  4. Waktu masuk islam
  5. Umur

Kesimpulan yang bisa diambil dari hadist di atas, berhati-hatilah saat memilih seseorang umat Muslim untuk menjadi imam dalam shalat berjamaah. Untuk meningkatkan kesempurnaaan shalat kita harus mengikuti yang di contoh dalam hadits.

BACA JUGA: https://moslemjourney.com/imam-menghadap-makmum-selesai-shalat-apa-ada-dalilnya/

Comment here