Hari pertama MIHAS 2026 resmi dibuka dengan angka yang cukup mencengangkan: 450 buyer internasional dari 58 negara hadir lewat International Sourcing Programme (INSP), termasuk 50 di antaranya berstatus buyer premium dengan kombinasi pendapatan tahunan hampir RM700 miliar. Pertanyaannya, seberapa besar sebenarnya daya tarik pasar halal Malaysia sampai bisa menarik minat sebesar ini?
INSP sendiri berperan sebagai mesin pertumbuhan utama MIHAS, memanfaatkan sesi business matching berintensitas tinggi untuk mengonversi minat buyer yang sudah melalui proses seleksi ketat menjadi pesanan ekspor nyata. Pendekatan ini yang membedakan program ini dari pameran dagang biasa — setiap pertemuan dirancang punya potensi transaksi sejak awal, bukan sekadar ajang kenalan.
Kalau selama ini MIHAS identik dengan produk makanan dan minuman halal, tahun ini gambarannya lebih luas. Menurut Chairman MATRADE, Dato’ Seri Reezal Merican Naina Merican, minat buyer premium justru banyak mengarah ke sektor di luar F&B, mulai dari bahan baku khusus, bioteknologi, keuangan syariah, logistik, hingga pendidikan. Pergeseran ini menandakan arah baru ekspor Malaysia yang makin berbasis jasa dan terintegrasi dalam rantai pasok global.
Secara regional, buyer dari kawasan Asia Timur Laut dan ASEAN masih menjadi kontingen terbesar. Namun yang menarik, tahun ini INSP juga kedatangan negara-negara yang baru pertama kali berpartisipasi, termasuk Comoros dan Rwanda, sekaligus memperkuat representasi Afrika sebagai pasar non-tradisional yang terus berkembang. Kehadiran mereka menunjukkan ekosistem halal Malaysia kini mulai dilirik pasar-pasar yang selama ini belum banyak tersentuh, bukan cuma negara-negara yang sudah dikenal sebagai basis konsumen produk halal. Secara keseluruhan, komposisi buyer tahun ini disebut mencerminkan perpaduan seimbang antara pasar tradisional dan non-tradisional, bukti bahwa jangkauan INSP terus meluas dari tahun ke tahun.
“INSP adalah mesin utama dan ‘jiwa’ dari MIHAS. Buyer internasional secara aktif mencari produk dan layanan halal berkualitas dari Malaysia, dan UKM lokal harus benar-benar memanfaatkan platform ini,” ujar Reezal Merican. Menurutnya, program ini selama ini menjadi katalis langsung bagi pelaku usaha lokal untuk mengakses jaringan dagang global bernilai tinggi. Ia menambahkan bahwa kaliber komersial buyer-buyer ini turut mendorong diversifikasi ekspor Malaysia, mendorong pergeseran menuju ekspor berbasis jasa dan integrasi rantai pasok global yang lebih dalam.
Skala minat ini juga sejalan dengan proyeksi pasar halal global yang diperkirakan tembus USD10 triliun pada 2030 — menjadikan MIHAS salah satu pintu masuk strategis bagi buyer premium untuk mengamankan pangsa pasar di industri yang terus tumbuh ini.
MIHAS sendiri sudah berjalan sejak 2004 dan kini memasuki edisi ke-22, tercatat sebagai pemegang rekor Guinness World Records dan mencakup 14 sektor industri halal — dari makanan-minuman, farmasi, keuangan syariah, hingga pariwisata ramah-Muslim. Bagi yang penasaran ingin melihat langsung skala buyer internasional ini, registrasi pengunjung MIHAS 2026 masih dibuka lewat portal resmi acara.
Moslem Journey akan terus memantau perkembangan INSP dan MIHAS 2026 selama empat hari acara berlangsung. Ikuti terus liputan lengkapnya.

